NAIK BUS EDAN ALA BALAPAN FORMULA ONE
Perjalanan kali ini dari solo ke Surabaya diprediksi harusnya memakan waktu lebih kurang dari 6 jam tapi super sekali jarak tempuh tersebut bisa lebih cepat 2 jam dari waktu yang diprediksi, seperti berjalan tanpa ada hambatan, biasanya yang hanya mampu melakukan hal tersebut adalah Mobil ambulans, atau iring –iringan kendaraan pejabat klo lagi berkunjung.
Bus melaju pesat seperti kita berada dalam ajang arena balap. Sopir dengan mahirnya menyalip kendaraan demi kendaraan, terkadang berpacu antara bus satu dengan bis pesaing. Dalam perjalanan yang di tempuh pada malam hari dengan niat untuk istirahat dan tidurpun hanya bisa dirasakan dalam kurun waktu lebih kurang 1 jam dan itu hanya dari terminal sampai keluar kota solo he..he..he selebihnya balapan yang menegangkan.
Lintas wilayah tersebut ternyata terkenal dengan adu tanding antara bus – bus biasanya berlomba untuk mencari penumpang.
Rata –rata kecepatan bus jika dirasakan pada saat itu lebih dari 100/km perjam, kecepatan yang tidak layak untuk digunakan untuk kendaraan besar seperti bus. Bus dalam teorinya dilihat dari kondisi bentuk yang di desain adalah muatan penumpang yang memiliki aturan tidak boleh melebihi kecepatan lebih dari 90 km/jam.
Menurut aturan Kemenhub tentang tata cara penetapan batas kecepatan melalui PP 111/2015 untuk jalur antar kota paling tinggi 80 km/jam, dan jalur bebas hambatan tidak lebih dari 90km/jam. Aturan itu adalah lalu lintas yang juga digunakan sebagai standard masyarakat Internasional, tapi mungkin hanya sebagian supir bus Indonesialah yang mungkin berani mengakses kecepatan bus melebihi dari kecepatan rata –rata dan bus –bus yang digunakan adalah merek - merek Internasional, terbayang seperti berada dalam arena balap Formula one.
Kondisi itulah yang menyebabkan tingkat kecelakaan kendaraan fasilitas umum sering terjadi di Indonesia, khususnya di jalur tersebut hampir sering terlihat kecelakaan, bus yang nyungsep, dan lain sebagainya.
Lucunya lagi dalam antrian lampu merah atau pada kondisi macet bus – bus tersebut berani untuk memotong marka jalan agar mereka tidak terjebak, dan sepertinya para sopir bus sudah di doktrin oleh perusahaan agar tiba tepat pada waktunya dan memungkinkan juga jika mereka tiba lebih awal maka perusahaan akan memberi reward kepada supir dan kernetnya.
Fenomena tersebut tidak mengusik para penumpang yang terbisa menggunakan fasilitas bus terebut karena mereka juga senang bisa tiba tepat waktunya terbukti sebagian penumpang bisa menikmatinya dengan tidur, hanya kita yang sebagai pendatang merasa deg - degkan, khawatir karena terbayang dalam kondisi bus yang besar menyalip seperti kendaraan kecil, mungkin yang ada dibenaknya sang supir sedang membayangkan mengemudikan mobil balap Formula 1 he..he..he.
Di lihat dari kapasitas supir – supir bus tersebut mereka bisa dikatakan ahli dalam mengendalikan busnya walaupun resiko yang harus dihadapinya, baik dari sisi keamanan penumpang dan si supir itu sendiri. Kesimbangan sebuah kendaraan yang diciptakan pasti akan menyesuaikan dari kapasitas dan kecepatan (speed) km/jam yang harus digunakan, jika melebihi dari standar yang ditetapkan kemungkinan tingkat resiko kecelakaan sangat tinggi sekali.
Selama mengikuti ajang balap itu saya membayangkan jika supir yang memiliki tingkat keahlian dan nyali yang luar biasa edan ini, pemerintah mengumpulkan mereka dan dibina untuk mengikuti pelatihan balap F 1000 atau Formula 1, dapat dibayangkan para supir bus itu akan mampu bersaing dengan pembalap – pembalap nasional Indonesia. Pembalap seperti Ananda Mikola, dan Rio andalan Indonesia yang berkanca di tingkat dunia juga akan tersaingi he..he..he.
Nah untuk itu seharusnya pemerintah jeli dalam merekrut para pembalap. Kondisi ini tidak hanya berada di wilayah tertentu, hampir seluruh nusantara Indonesia para supir bus memiliki keahlian, dan nyali yang sama dengan karakter yang berbeda, atau jika dimungkinkan pemerintah membuat pelatihan khusus agar nantinya mereka dapat memilih apakah berbakat jadi supir yang bertanggung jawab atas keselamatan penumpangnya atau menjadi pembalab benaran yang mampu mengharumkan Indonesia…sungguh luar biasa Nusantaraku. (NDY, 12/12/2017)


0 comments