MENYIKAPI TREND KEPEMIMPINAN
Pagi kali ini masih hangat membicarakan topik-topik umum seputar persiapan kurban dan shalat Idul adha . Sekitar lebih dari dua belas orang dari berbagai kalangan duduk di warung kopi tersebut.
Dan tak kalah menariknya, hadir juga seorang tokoh masyarakat yang notabenenya beliau adalah seorang ulama , juga salah satu perwira di lingkungan militer. Seperti biasa langsung gabung dan duduk memesan minuman kopi.
Obrolan berjalan normal beliau memberikan masukan-masukan seputar perbincangan yang kita bahas pada saat itu. Tiba – tiba kita di kejutkan dengan pernyataan beliau, bahwa beliau akan maju untuk menjadi calon pemimpin dan ikut pilkada untuk periode mendatang. Wow hampir seluruh pengunjung kopi saat itu terhentak kaget dan hening sesaat serta berpikir siap-siap untuk melontarkan berbagai pertanyaan kepada beliau.
Karena pertarungan politik di kota ini sudah bisa di baca siapa calon terkuat, incumbent masih mendominasi untuk saat ini, dan incumbent sudah mempersiapkan dari beberapa tahun belakangan dengan melakukan pendekatan di masyarakat, serta telah melaksanakan program- program beliau dari lima tahun sebelumnya, dan jika dilihat secara peta politik sungguh sangat susah untuk di hadapai karena masyarakat sudah mengenal dan merasakan hasil – hasil yang telah di lakukannya selama memimpin.
Rasanya tidak mungkin beliau untuk menang dalam PILKDA kedepan. Satu pertanyaan yang sangat menggelitik di lontarkan oleh salah seorang teman, emang bapak punya uang berapa untuk maju… ? lebih baik.. uangnya buat kita – kita aja atau buat kepentingan sosial lainnya ketimbang hanya di gunakan untuk kepentingan politik yang belum pasti.
Wah ..jawab beliau…untuk uang sepeserpun saya tidak punya, saya hanya seorang perwira berpangkat mayor di lingkungan kerja saya, dan saya juga hanya seorang penceramah dari masjid ke masjid, kampus, dan Majelis Taqlim, saya tidak memiliki uang yang banyak untuk mengikuti kontes PILKDA tahun depan dan saya juga merasa tidak mungkin rasanya untuk bisa atau mimpi sekalipun untuk ikut di Percaturan politik ini.
Lalu lanjut si penanya, bagaimana mungkin anda berani untuk ikut kontes PILKADA ini ? Jawaban beliau sederhana sekali, dua bulan lalu saya di panggil salah satu pimpinan partai terbesar di Indonesia dan tergabung dalam tiga koalisi partai besar di Indonesia. Dia mengundang saya dalam ruang tertutup, dan pada saat itu dia memutarkan segala aktifitas saya dalam berinteraksi di masyarakat, datanya begitu komplit dan detail apa yang telah saya lakukan selama ini.
Pemimpin partai besar tersebut meminta secara langsung kebada beliau untuk ikut meramaikan kontes politik PILKADA tahun mendatang di kota ini. Segala sesuatunya baik dari persiapan keuangan, pembelajaran politik dan segala sesuatunya akan di full support oleh partai tersebut, dia hanya di suruh mempersiapkan diri secara mental lahiriah. Menurut beliau awalnya dia menolak dan di kasih waktu untuk memutuskan.
Dan setelah satu minggu kemudian beliau di panggil ke pusat untuk di ajak bertemu secara khusus dengan Ketua Umum partai tersebut. Dalam pertemuan tersebut, KETUM partai meminta lagi secara langsung kesediaan beliau dan berjanji akan turun ke lapangan secara langsung untuk mendukung dan mengawal beliau dalam kontes PILKADA mendatang.
Dalam kesempatan tersebut beliau juga bertanya kepada ketua partai, kenapa bapak dan partai memilih saya ? Jawabannya adalah menyesuaikan dengan trend kebutuhan masyarakat saat ini. Jadi setelah peristiwa yang menimpa DKI waktu itu, masa yang berbasis ideologi saat ini sangat kuat dan merata hampir di seluruh penjuru tanah air, untuk itu kami sangat membutuhkan orang-orang seperti anda selain memiliki kekuatan leadership yang anda dapat dalam pendidikan militer, anda juga adalah seorang pemuka agama yang mengerti betul bentuk konstelasi mengenai paham ajaran – ajaran dan basis organisasi yang harus anda dekati selama berkampanye nanti. Karena itu semua telah kita kaji dan melakukan survey sesuai kebutuhan masyarakat saat ini, pemimpin seperti apa yang mereka inginkan. Dan menurutnya untuk kota ini andalah satu-satunya orang yang cocok untuk duduk di kursi kepemimpinan periode kedepan, selain mampu beliau juga tidak memiliki track record yang buruk di masyarakat.
Akhirnya setelah melakukan itiqhorah, dan berdiskusi panjang dengan berbagai tokoh dan pemuka agama di kota ini mereka menyambut baik dan pada hari yang tepat setelah seminggu pertemuan di Jakarta, beliau memutuskan untuk menyetujui dan menerima tawaran dari Partai terbesar di Indonesia tersebut. Beliau menganggap ini adalah bentuk syiar dalam memperjuangkan sebuah kepemimpinan yang sempurna dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat yang selama ini hilang oleh pemasalahan – permasalahan yang ada.
Dapat di tarik benang panjang bahwa menetukan sebuah kepemimpinan kurang lebih sama dengan membangun sebuah bisnis , harus bisa jeli dalam melihat segmen dan trend pasar saat ini. Seorang pemimpin tidak hanya di lihat dari kemampuan leadershipnya saja, melainkan dia juga harus mampu dan memiliki nilai tambah untuk bisa masuk di suatu trend yang menjadi sorotan dan kebutuhan.
Pemahaman saya tentang leadership sebelumnya adalah seorang yang memiliki kemampuan memimpin, serta memiliki wawasan yang luas dan bisa melihat permasalahan di bawah agar kondisi lingkungan yang dia pimpin bisa menjadi nyaman, tenteram, aman dan sejahtera, sehingga keputusan - keputusan yang akan di ambil nantinya adalah merupakan keputusan yang sehat dalam sebuah organisasi .
Tetapi dalam kondisi saat ini seiring perkembangan jaman dan tingkat permasalahan yang berkembang di masyarakat. Pemimpin di pilih tidak semata-semata hanya dia mampu memimpin, melainkan dia juga harus paham atas kondisi trend market yang di butuhkan.
Di kondisikan agar seorang pemimpin dapat menyelam untuk menyesuaikan dengan trend tersebut. Sebagai contoh karena trend ideology saat ini menjadi sorotan, di mana hampir di seluruh penjuru tanah air bisa terkoodinir dengan rapi, serta menjadikan idealisme masyarakat tumbuh secara signifikan. Maka di butuhkanlah sosok yang paham dan mengerti betul akan ideology tersebut.
Pertanyaannya apakah dia mampu untuk bersaing dengan incumbent yang jelas posisinya saat ini sudah di percaya masyarakat ? dan jika ini terjadi bisa menjadi suatu kajian yang sangat menarik bahwa idealisme ideology bisa mengalahkan rasionalisme. (NDY, 28/08/17)
5.30 am : At Waroeng Kopi Pak Naseer
Jl. H. Rais. Rahman , Pontianak - KALBAR


0 comments