PAK ACO NELAYAN CERDAS PESISIR MOLITABU : Protes dari Kebijakan Trumph Sampai Ke Pemerintah
Perkampungan nelayan adalah salah satu tempat yang nyaman untuk dikunjungi jika kita berada di Provinsi gorontalo. Memiliki Pesisir pantai serta alamnya yang indah, bisa berinteraksi langsung dengan nelayan lokal yang sangat ramah dan kita juga bisa melihat langsung proses penangkapan berbagai ikan. sesuatu yang belum tentu kita dapati di wilayah perkotaan.
Kali ini saya berada di perkampugan nelayan di pesisir pantai Molitabu. Pesisir pantai yang indah nan tenang dan banyak pengalaman menarik dapat dirasakan saat berada di pesisir pantai tersebut.
Pak Aco adalah nelayan kenalan saya pada saat itu dan merupakan salah seorang nelayan aktif daerah pesisir molitabu. Yang menarik dari Pak Aco, selain kita beribincang - bincang mengenai segala jenis tangkapan ikan, Pak Aco juga memiliki wawasan yang sangat luar biasa, beliau sangat update terhadap berita berita terkini baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut beliau informasi itu penting dan bermanfaat sekali untuk pengembangan wawasan berpikir saya.
"Pak Aco sudah berapa lama menjadi nelayan" saya berusaha menginterview pak Aco secara informal.
"Saya hampir dari lahir sudah berhadapan dengan laut " Jawab pak Aco dengan senyuman khasnya.
"Maaf Pak Aco, kira -kira klo boleh tahu berapa pendapatan hasil nelayan Pak Aco per hari "
" Gak tentu, bisa rata- rata 100 ribulah perhari mas, yang penting saya hanya bercita - cita memberikan pendidikan pendidikan terbaik buat anak - anak saya, dan Alhamdulilah anak saya yang pertama saat ini sedang kuliah dan sudah semester enam".
"Pendidikan itu penting sekali, walaupun saya ini hanya seorang nelayan tapi saya ingin anak -anak saya harus bisa lebih pintar dan mampu beradaptasi dengan dunia bersama ilmunya, karena saya sendiri tidak pernah mengecam pendidikan formal " ujar pak Aco.
" Oh ya pak.. bagaimana dengan kebijakan Trumph mengenai Yeriusalaem, keterlaluan juga itu Trumph masa Yerusalaem mau di gabung dengan Israel, kiapa itu, kita klo ada yang kasih berangkat ke Jakarta, kita mau ikut gabung orang - orang yang pada demo (dengan logat Gorontalonya)"
Tersentak kaget saya pada saat itu tiba -tiba beliau protes akan kebijakan Trumph terhadap Yerusalem. Perasaan antara bangga, malu dan bercampur kagum, tidak terbayang dengan kesibukannya sebagai nelayan, beliau masih sempat mengikuti perkembangan yang terjadi didunia.
"Pak Aco sudah berapa lama menjadi nelayan" saya berusaha menginterview pak Aco secara informal.
"Saya hampir dari lahir sudah berhadapan dengan laut " Jawab pak Aco dengan senyuman khasnya.
"Maaf Pak Aco, kira -kira klo boleh tahu berapa pendapatan hasil nelayan Pak Aco per hari "
" Gak tentu, bisa rata- rata 100 ribulah perhari mas, yang penting saya hanya bercita - cita memberikan pendidikan pendidikan terbaik buat anak - anak saya, dan Alhamdulilah anak saya yang pertama saat ini sedang kuliah dan sudah semester enam".
"Pendidikan itu penting sekali, walaupun saya ini hanya seorang nelayan tapi saya ingin anak -anak saya harus bisa lebih pintar dan mampu beradaptasi dengan dunia bersama ilmunya, karena saya sendiri tidak pernah mengecam pendidikan formal " ujar pak Aco.
" Oh ya pak.. bagaimana dengan kebijakan Trumph mengenai Yeriusalaem, keterlaluan juga itu Trumph masa Yerusalaem mau di gabung dengan Israel, kiapa itu, kita klo ada yang kasih berangkat ke Jakarta, kita mau ikut gabung orang - orang yang pada demo (dengan logat Gorontalonya)"
Tersentak kaget saya pada saat itu tiba -tiba beliau protes akan kebijakan Trumph terhadap Yerusalem. Perasaan antara bangga, malu dan bercampur kagum, tidak terbayang dengan kesibukannya sebagai nelayan, beliau masih sempat mengikuti perkembangan yang terjadi didunia.
Menurut pak Aco kebijakan Trumph sangat memojokan sekali bagi umat muslim dunia, "itu merupakan pelecehan dan Trumph terlihat sangat arogan" celoteh pak Aco dengan mimik emosinya.
Pada kesempatan itu saya hanya berusaha menetralisir berita yang telah di update oleh Pak Aco tersebut, saya bilang ke beliau "kebijakan Trumph tersebut hanya upaya propaganda dunia terhadap umat muslim, dan terkesan ada unsur kesengajaan agar para kaum muslimin marah hingga dia tidak fokus apa yang akan mereka kerjakan, coba bayangkan kalo sempat Pak Aco ikut - ikutan demo , siapa yang akan mencari ikan buat keluarga Pak Aco" dan pak Aco dengan serius menganggukkan kepalanya tanda sepakat dengan apa yang saya sampaikan.
Polemik yang ada dikepala seorang Pak Aco, tidak hanya sebatas protes kebijakan terhadap orang nomor satu di Amerika, beliau juga kurang setuju atas bantuan kapal/ perahu kecil yang diberikan oleh Pemerintah, menurut beliau maksud baik pemerintah patut diangkat jempol dan kami seluruh nelayan bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh Pemerintah.
Akan tetapi proses pendistribusiannya menurut beliau berbau korupsi, "bagaimana tidak (dengan logat khasnya) perahu tersebut diberikan ke kami adalah perahu yang telah jadi tanpa memperhatikan kualitas, dan bentuknya tidak ada yang seragam, ada yang besar dan ada yang kecil ".
Menurut Pak Aco "alangkah baiknya prooses pembuatan perahu tersebut para nelayan dilibatkan agar bisa mengakomodir kebutuhan para nelayan, karena yang melautkan bukan mereka (Pemerintah) ",
"Ya.. Apa boleh buat namanya juga gratis, dan kita masih diperhatikan, itu semua patut disyukuri " ujar Pak Aco.
Sudah saatnyalah sekarang kita semua dan khususnya dikalangan pengambil kebijakan untuk memperhatikan nasib para nelayan bahari Indonesia. bayangkan saja sekelas nelayan yang berada di pesisir pantai molitabu pendapat rata -rata perhari mereka sekitar 100,000 rupiah dan merka harus merelakan dirinya mengarungi samudera dengan perahu kecil bantuan pemerintah tanpa dilengkapi standar perlengkapan keamanan layaknya kapal - kapal nelayan yang terkoodinir oleh swasta.
Dengan hasil pendapatan tersebut jika diakumulasi selama sebulan bisa diperkirakan pendapatan bulanan mereka sebesar tiga juta rupiah, dimana meraka harus menghidupkan keluarga dari kebutuhan sandang, pangan, sampe ke Pendidikan. Tapi menurut Pak Aco itu semua berkah yang sangat luar biasa setidaknya kami mampu menghidupkan para pengusaha - pengusaha ikan yang kaya -raya di Indonesia..he..he..he. (NDY, 24/12/2017).
Pada kesempatan itu saya hanya berusaha menetralisir berita yang telah di update oleh Pak Aco tersebut, saya bilang ke beliau "kebijakan Trumph tersebut hanya upaya propaganda dunia terhadap umat muslim, dan terkesan ada unsur kesengajaan agar para kaum muslimin marah hingga dia tidak fokus apa yang akan mereka kerjakan, coba bayangkan kalo sempat Pak Aco ikut - ikutan demo , siapa yang akan mencari ikan buat keluarga Pak Aco" dan pak Aco dengan serius menganggukkan kepalanya tanda sepakat dengan apa yang saya sampaikan.
Polemik yang ada dikepala seorang Pak Aco, tidak hanya sebatas protes kebijakan terhadap orang nomor satu di Amerika, beliau juga kurang setuju atas bantuan kapal/ perahu kecil yang diberikan oleh Pemerintah, menurut beliau maksud baik pemerintah patut diangkat jempol dan kami seluruh nelayan bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh Pemerintah.
Akan tetapi proses pendistribusiannya menurut beliau berbau korupsi, "bagaimana tidak (dengan logat khasnya) perahu tersebut diberikan ke kami adalah perahu yang telah jadi tanpa memperhatikan kualitas, dan bentuknya tidak ada yang seragam, ada yang besar dan ada yang kecil ".
Menurut Pak Aco "alangkah baiknya prooses pembuatan perahu tersebut para nelayan dilibatkan agar bisa mengakomodir kebutuhan para nelayan, karena yang melautkan bukan mereka (Pemerintah) ",
"Ya.. Apa boleh buat namanya juga gratis, dan kita masih diperhatikan, itu semua patut disyukuri " ujar Pak Aco.
Sudah saatnyalah sekarang kita semua dan khususnya dikalangan pengambil kebijakan untuk memperhatikan nasib para nelayan bahari Indonesia. bayangkan saja sekelas nelayan yang berada di pesisir pantai molitabu pendapat rata -rata perhari mereka sekitar 100,000 rupiah dan merka harus merelakan dirinya mengarungi samudera dengan perahu kecil bantuan pemerintah tanpa dilengkapi standar perlengkapan keamanan layaknya kapal - kapal nelayan yang terkoodinir oleh swasta.
Dengan hasil pendapatan tersebut jika diakumulasi selama sebulan bisa diperkirakan pendapatan bulanan mereka sebesar tiga juta rupiah, dimana meraka harus menghidupkan keluarga dari kebutuhan sandang, pangan, sampe ke Pendidikan. Tapi menurut Pak Aco itu semua berkah yang sangat luar biasa setidaknya kami mampu menghidupkan para pengusaha - pengusaha ikan yang kaya -raya di Indonesia..he..he..he. (NDY, 24/12/2017).



0 comments