Pilih Mana Ya... Mahar Politik Atau Mahar Kawin?
Kata - kata mahar biasanya bermuculan ketika menjelang musim pilkada dan musim kawin, keduanya sama - sama memberikan arti yang sangat menegangkan bagi pemberi dan menyejukkan bagi si penerima mahar. Karena mahar itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat sakral dan memiliki nilai.
Dalam kamus bahasa Indonesia, mahar adalah "sesuatu pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah; maskawin;" jadi kata - kata mahar erat hubungannya dengan perkawinan. Bagaimana dengan pengertian Mahar dalam Politik, nah ini perlu berpikir keras untuk menterjemahkannya. Mahar dalam politik erat kaitannya dengan pemberian sejumlah uang yang telah disepakati antara kedua belah pihak, dalam hal ini calon pemimpin yang akan bertanding dengan partai pengusungnya bedanya kalau mahar kawin harus di depan penghulu sedangkan mahar politik di depan Ketua Umum partai ha..ha..ha.
Sampai saat ini dalam pendekatan politik yang digunakan sehingga berwujud penggunaan kata mahar tersebut sangat jauh dalam konotasi sakralitas perkawinan. Mungkin si pengguna kata mahar dalam Politik mereka mengganggap kesepakatan antara kedua belah pihak sama dengan kesepakatan ketika kita akan melamar pasangan yang kita cintai untuk naik kepelaminan.
Bedanya mahar untuk menikah terkadang hanya seperangkat alat Sholat, perhiasan dan sejumlah uang, sedangkan mahar politik bisa menghabiskan ratusan milliar hampir mendekati anggaran belanja daerah di tingkat kabupaten kkkk.
Seperti kasus rencana pemeberian mahar politik yang baru - baru ini menjadi viral di sosial media. Dimana salah seorang yang ingin mencalonkan diri dalam Pilkada telah menyepakati uang ratusan milliar hanya untuk mendapatkan rekomendasi dari partai yang mengusungnya, namun rekom yan ditunggu tidak kunjung keluar maka si calon tersebut mulai teriak - teriak kesana kemari, karena diawal telah mengeluarkan uang milliaran rupiah kepada salah seorang oknum Partai, dan masih banyak kasus lagi serupa yang terjadi ketika menjelang Pesta Demokrasi di Indonesia.
Miris sekali mendengar nilai dari mahar yang akan dikeluarkan untuk menjabat sebagai kepala daerah. Pertanyaannya darimana uang ratusan milliar tersebut mereka dapat dan berapa tahun mereka akan mengembalikan uang ratusan milliar tersebut ?
Dalam kesempatan ini saya akan mencoba mengilustrasikannya secara matematis antara pengeluaran Mahar katakanlah sebesar 170 Milliar dengan penghasilan seorang Kepala Daerah setingkat Gubernur adalah sebagai berikut :
- Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia. NO 68 Tahun 2001 mengenai tunjangan dan gaji kepala daerah tingkat I atau Gubernur, Penerimaan Gaji sebesar 3 Juta Rupiah. Sementara untuk tunjangan jabatan yang diatur melalui Keppres No 59 tahun 2003 tentang Tunjangan Jabatan Bagi Pejabat Negara di Lingkungan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, tunjangan jabatan seorang untuk seorang Gubernur sekitar Rp 5,4 juta. total pendapatan gaji lebih kurang sebesar Rp. 8.4 juta Rupiah.
- Dari total pendapatan 8,4 Juta gaji x 12 bulan = Rp. 100,800,000 (Total pertahun). Jika di akumulasikan dengan periode menjabat selama 5 tahun x Rp. 100,800,000 = Rp. 504,000,000. Dan jika dalam Pilkada berikutnya mereka memenangkan kembali untuk perriode lima tahun maka total pendapatan dalam dua periode menjabat adalah sebesar Rp. 1,008,000,000.( Satu millyar delapan juta rupiah) Dari total gaji selama dua periode tersebut masih sekitar 0.006 % dari total mahar yang dikeluarkan.
- Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 109/2000 pasal 9(f) tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dijelaskan jika PAD di atas Rp 500 milyar biaya penunjang operasional Gubernur paling rendah Rp 1,25 milyar dan paling tinggi sebesar 0,15 persen. (Sumber: Republika.co.id, 25/02/17).
- Jika PAD (Pendapatan Asli Daerah) kita ambil contoh untuk daerah Provinsi Jawa Timur pada Th 2016 sebesar 12 Trlliun rupiah ,maka BPO (Biaya Penunjang Operasional) sebesar 0.15 % adalah sekitar 18 miliar dan per - bulannya BPO yang harus dikeluakan rata -rata sebesar 1,4 Milliar Rupiah . Jika Dana BPO boleh dimiliki dan disimpan sebagai simpanan Pribadi dalam periode 5 tahun menjabad si kepala daerah tersebut mampu menghasilkan sebesar 90 Milliar, dan jika periode berikutnya mampu menduduki jabatan serupa kemungkinan dana mahar 170 Miliar yang dikeluarkan mendapatkan keuntungan sebesar 10 Milliar rupiah dari total akumulasi dua periode menjabat sebesar 180 Milliar WOW..
Tapi sesuai fungsinya BPO adalah bukan pendapatan melainkan biaya operasional yang harus di keluarkan sebagai penunjang seluruh aktifitas dan program kepala daerah serta harus memiliki pertanggungjawaban jelas dalam penggunaannya.
Sudah pasti para kepala daerah tersebut Pusing tujuh keliling memikirkannya, secara rasional dalam pengeluaran mahar yang begitu besar tersebut si kepala daerah akan mutar otak lebih keras lagi dalam memanfaatkan dan mengelola Anggaran Belanjanya, dimana sudah barang tentu memiliki resiko yang sangat tinggi untuk menerima rewards berupa jaket orange miliknya KPK. Mungkin dari dasar dan pengalaman tersebutlah tingkat korupsi di Indonesia seperti tidak pernah padam.
Dari mahar ratusan milliar rupiah tersebut saya juga akan mencoba mengilustrasikan dana tersebut benar - benar diperuntukkan sebagai mahar perkawinan, sudah barang tentu si boss pemilik dana mampu untuk menikahi wanita cantik lebih dari satu dengan nafkah lahir batin yang begitu adil dan tercukupi he..he..he.
Berikut Ilustrasi Mahar kawin dengan asumsi dana 170 milliar rupiah sebagai berikut :
- Si boss mampu menikahi 10 wanita dengan budged nikah sebesar 10 milliar (masing -masing 1 milliar dengan mahar + biaya pesta pernikahan he..he.h.e).
- Setelah Menikah si boss menyiapkan nafkah hidup untuk masing - masing isterinya dengan budget katakan 20 Milliar per tahun ( masing -masing orang menerima Rp 2 milliyar per/tahun).
- Uang si Boss masih ada sisa 140 Milliar. Jika si Boss kreatif para isterinya diajarkan untuk menjadi seorang pengusaha/enterpreneur dengan menganggarkan modal sebesar 40 Milliar ( Masing -masing isterinya akan menerima kucuran modal usaha sebesar 4 Milliar..tanpa bunga lho kkkkk) dengan asumsi target keuntungan terkecil sebesar 5 % per bulan. Jika di kalkulasi dengan perkiraan nilai investasi selama lima tahun si boss mampu mengasilkan uang sebesar 120 Milliar rupiah, sungguh merupakan passive income yang sangat luar biasa.
- Rata - rata dalam 5 tahun uang si boss meningkat sebesar 100 milliar atau sekitar 20 sd 30 % dari uang 170 Milliar yang dimilikinya. Setiap bulan si boss mampu mendatangkan motivator bisnis handal untuk memotivasi para isterinya agar tetap semangat dalam melaksanakan bisnisnya dengan koridor yang jelas.
Dari kedua ilustrasi matematis bisnis diatas, manakah yang sangat menguntungkan menurut anda, mengeluarkan MAHAR POLITIKKAH atau MAHAR KAWIN ?....Silahkan untuk menjadi renungan bagi para pria berduit di Indonesia.... kkkkk (NDY, 18/01/2017)


0 comments